Laman

Jumat, 07 Mei 2010

GEMA ILMU::TOKO BUKU ISLAM MURAH DISKON : NGGAK SEKEDAR TOKO BUKU ...

Harga: Rp. 31.000
Harga Disini: Rp. 24.800
Persediaan Terbatas

Para pembaca yang mulia, telah kita ketahui bersama bahwa pada saat ini banyak kelompok-kelompok dalam Islam yang menawarkan berbagai metode dakwah. Mereka melakukan ini semua dalam rangka -menurut anggapan mereka- untuk kemuliaan Islam dan kejayaan kaum muslimin. Mereka melihat, saat ini kaum muslimin dalam keadaan lemah dan rendah di hadapan musuh-musuhnya. Sebagian di antara kaum muslimin ada yang mengekor kepada pola kehidupan orang-orang kafir barat dan sebagian lainnya malu untuk menampakkan keislamannya.
Kelompok-kelompok ini lalu bangkit dan berteriak kepada kaum muslimin.: "Kembalillah kalian kepada Islam! Kembalillah kalian kepada Allah!" Kemudian mereka segera menyusun metode-metode dakwah untuk mengembalikan kaum muslimin kepada Islam. Di antara mereka ada yang memulai dakwahnya dengan perbaikan akhlak dan penyucian hati. Mereka namakan dakwahnya dengan nama `Manajemen Qalbu'.
Dan kelompok lainnya memulai dakwahnya dengan perbaikan ekonomi umat, sedangkan kelompok lainnya melancarkan dakwahnya melalui jalur politik. Yang dimaksud politik di sini bukanlah politik Islam yang diwarisi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifahnya yang lurus, akan tetapi sistem politik yang berasal dari orang-orang kafir barat. Seperti demokrasi, sistem parlemen, partai politik, sistem pemilihan penimpin negara, sistem pembagian kekuasan di dalam negara dan lain sebagainya. Dan metode dakwah seperti inilah yang saat ini sedang digandrungi oleh para pemuda Islam.
Para pembaca Yang mulia, lalu bagaimanakah dakwah para nabi Allah? Apakah ada di antara nabi Allah yang memulai dakwahnya dengan perbaikan akhlak dan penyucian hati? Apakah ada di antara mereka yang berdakwah dengan melalui perbaikan ekonomi umat? Apakah ada di antara mereka yang berdakwah melalui jalur politik?
Apakah Nabi Musa memulai dakwahnya dengan memprovokasi Bani Israil untuk merebut kekuasaan Fir'aun yang dzalim, kejam, dan bahkan mengaku sebagai tuhan? Kalau seandainya berdakwah itu harus lewat politik, lalu mengapa ketika Fir'aun dan bala tentaranya mati di laut, Nabi Musa tidak kembali ke Mesir untuk menjadi penguasa di sana dan bahkan beliau tinggal di Gurun Sinai, tanpa daulah, tanpa kekuasaan, dan tanpa pemerintahan ilahiyyah?! Dan mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak tawaran dari `Utbah bin Rabi'ah untuk menjadi penguasa Quraisy dan menjadi orang yang terkaya di antara mereka? Lalu, dari arah manakah para nabi Allah memulai dakwahnya?
Semua pertanyaan ini akan terjawab melalui buku yang ada di hadapan pembaca. Buku ini akan mengupas tentang cara dakwah para nabi Allah. Buku yang judul aslinya adalah Manhajul Anbiya' fid Da'wati ilallah fihil Hikmah wal `Aql, ditulis oleh Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali.


Read More